HUBUNGAN PUASA DAN KESEHATAN :
HASIL-HASIL PENELITIAN TENTANG PUASA
M.Bambang Edi Susyanto
Hubungan
Islam dan kesehatan secara normatif tergambar dari ayat-ayat Al-Quran
dan hadist shahih yang membicarakan tentang sakit atau penyakit.
Hubungan puasa dan kesehatan secara eksplisit juga disebut dalam
ayat-ayat puasa, dengan menyebut kondisi sakit sebagai salah satu alasan
dibebaskannya seseorang dari kewajiban puasa.
Selanjutnya,
masih secara normatif, hubungan antara puasa dan kesehatan juga dapat
dipandang dari aspek manfaat atau hikmah. Artinya puasa sebagai ibadah
memiliki hikmah atau manfaat duniawi, dalam hal ini kesehatan. Jadi
kajian ini bukan dimaksudkan untuk membelokkan niat ibadah tetapi untuk
memahami kebesaran Allah, seraya kita berkata ”Robbana maa kholaqta hadza bathilan, subhanaka faqinaa ’adzabannaar”.
Berbagai penelitian dapat dilakukan untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Setidaknya hasil-hasil penelitian dapat dikaji, jika kita belum mampu
melakukan penelitian.
Sebagai dasar penyusunan hipotesis dapat dikemukakan premis mayor dan minor sebagai berikut :
- Dipastikan adanya hikmah dibalik disyariatkannya sesuatu oleh Allah, termasuk puasa, baik hikmah itu diketahui atau tidak (belum) diketahui oleh manusia
- Suatu kewajiban yang dibebankan kepada manusia pada dasarnya dapat dikerjakan oleh manusia, sehingga pada populasi umum semestinya puasa tidak akan menimbulkan masalah kesehatan
- Puasa dalam Islam tidak bertentangan dengan konsep diet secara umum, karena bukan merupakan puasa total (bandingkan dengan puasa ngebleng, tanpa buka dan sahur) dan juga bukan diet yang merestriksi nutrien tertentu saja. Anjuran segera berbuka dan anjuran mengakhirkan makan sahur adalah pendukung kebaikan metode diet dalam puasa Ramadhan
- Kewajiban puasa dikecualikan bagi mereka yang sakit atau berpotensi menimbulkan masalah bila dilaksanakan (anak-anak, udzur usia, musafir, pekerja berat).
- Disunnahkan memperbanyak puasa di bulan sya’ban dari sisi yang sama dapat diambil hikmahnya sebagai suatu latihan atau pemanasan sebelum puasa Ramadhan
Mengacu
kepada isyarat dari syariat puasa, dua pertanyaan pokok dapat diajukan
untuk mengevaluasi hubungan puasa dan kesehatan :
- Apakah puasa tidak memberi pengaruh jelek terhadap kesehatan ?
- Apakah puasa memberi manfaat kepada kesehatan ?
Kedua
pertanyaan tersebut, selanjutnya dapat dirinci menjadi berbagai
pertanyaan klinis yang menantang dilakukannya berbagai penelitian,
misalnya :
1. Bagaimana pengaruh puasa terhadap kadar gula darah pada orang yang sehat maupun pengidap diabetes ?
2. Bagaimana
pengaruh puasa terhadap parameter kimia darah lainnya (lemak,
kolesterol, fungsi ginjal, dsb) pada orang yang sehat dan pada pengidap
diabetes mellitus?
3. Bagaimana pengaruh puasa terhadap nilai-nilai fisiologis tertentu ?
4. Bagaimana pengaruh puasa terhadap obesitas?
5. Apakah puasa akan memperburuk penyakit tertentu?
6. Dan seterusnya
Berdasarkan
pertanyaan-pertanyaan tersebut dilakukan penelusuran melalui internet
untuk mencari hasil-hasil penelitian yang relevan. Kata kunci yang digunakan adalah Islamic fasting, effect atau impact, health dan disease.
Penelusuran terutama melalui Pubmed database dan dilanjutkan dengan
penelusuran ke link terkait. Berikut ini kami tampilkan sebagian hasil
penelusuran tersebut.
1. Bagaimana pengaruh puasa Ramadhan terhadap nilai-nilai fungsi paru pada individu sehat ?
Penelitian
di bidang fisiologi ini dilakukan oleh Siddiqui QA, Sabir S dan Subhan
MM (2005). Tujuan penelitian ini adalah menilai apakah puasa Ramadhan
mempengaruhi nilai-nilai fungsi paru. Dilakukan penelitian pada 46 pria sehat bukan perokok dengan rerata umur 24,2 tahun (simpang baku 6,4 tahun). Spirometri dilakukan sesuai dengan rekomendasi the American Thoracic Society.
Spirometri dilakukan pada hari-hari antara hari ke 15 dan 25 bulan
bulan Pra Ramadhan, Ramadhan dan setelah Ramadhan. Pada tiga waktu itu
dilakukan pengukuran FVC, FEV(1), FEV(1)/FVC%, maximum voluntary ventilation (MVV(indirect)), PEF, FEF(25–75%) dan massa tubuh. Hasil pembacaan sebelum dan setelah Ramadhan dibandingkan dengan hasil selama puasa Ramadhan.
Didapatkan
bahwa tidak ada perubahaan bermakna dalam fungsi paru selama Ramadhan
jika dibandingkan dengan periode sebelum Ramadhan. FVC berkurang secara
bermakna pada periode setelah Ramadhan bila dibandingkan dengan periode
Ramadhan dan ini berhubungan dengan penambahan massa tubuh yang
bermakna. Simpulan: dibandingkan data dasar pada periode sebelum
Ramadhan, tidak terdapat perubahan nilai-nilai spirometri selama
Ramadhan pada subyek yang diteliti
.
2. Apakah puasa Ramadhan efektif mencegah dan mengatasi obesitas ?
Diet
yang seimbang dan dengan restriksi (pengurangan) kalori, latihan dan
modifikasi kebiasaan merupakan pendekatan yang lazim dalam penanganan
obesitas. Puasa yang mengandung komponen restriksi energi dan modifikasi
perilaku diduga merupakan pendekatan nutrisional yang aman untuk
mencegah dan mengobati obesitas. Dilakukan penelitian pengaruh puasa
terhadap asupan makanan, berat badan dan kimia darah pada
sepuluh subyek sehat. Dilakukan pencatatan asupan makanan dan cairan
sebelum dan pada minggu pertama serta keempat puasa. Berat badan
partisipan dicatat sebelum dan pada akhir bulan puasa. Sampel darah
diambil sebelum, pada minggu kedua dan keempat puasa serta dua minggu
setelah puasa.
Pengurangan
energi harian (asupan makanan) berkisar dari 200-1500 Kkal dengan
rerata 857± 410 Kkal. Selama empat minggu puasa kehilangan berat badan
berkisar dari 0,5-6,0 kg dengan rerata 3,2±1,7 kg. Tidak ada perbedaan
bermakna dalam kadar glukose, protein total, trigliserida dan kolesterol
total, HDL serta LDL dalam sampel darah yang diambil sebelum, selama
dan setelah puasa. Data menunjukkan bahwa puasa Islam aman dan dapat digunakan sebagai strategi untuk mencegah dan mengendalikan obesitas
3. Apakah puasa Ramadhan aman untuk pasien diabetes ?
Sebuah penelitian prospektif dilaksanakan di FK The International Islamic University Malaysia (IIUM), Kuantan. Subyek penelitian adalah pasien diabetes sebuah rumah sakit yang menyetujui berpartisipasi mengikuti penelitian. Keputusan
untuk berpuasa kebanyakan adalah dari pasien atas motivasi agama.
Kriteria inklusinya adalah pasien DM yang non insulin dependen yang
stabil dengan pengobatan oral atau diet. Semua partisipan harus berpuasa
minimal 25 hari. Sebagai kelompok control adalah mahasiswa dan pegawai
FK IIUM yang secara sukarela berpartisipasi dalam penelitian.
Dilakukan
pengukuran berat badan, kadar gula darah puasa, lemak, kreatinin asam
urat dan nitrogen (BUN) pada tiga periode yaitu sebelum ramadhan, minggu
keempat ramadhan dan satu bulan setelah ramadhan. Darah untuk
pemeriksaan HbA1c diambil pada kunjungan 1 dan 3. Kejadian hypoglikemia
dan komplikasi lain direkam pada kunjunga kedua
Tujuan
data kunjungan 1 adalah untuk menilai keadaan umum pasien, menilai
pengendalian diabetes mereka dan mengedukasi mereka untuk penyesuaian
diet dan waktu konsumsi obat selama Ramadhan. Mereka juga diedukasi
mengenai gejala hipoglikemia, dehidrasi, dan kemungkinan komplikasi
puasa lain.Mereka diminta untuk berbuka puasa segera jika menjumpai
gejala-gejala komplikasi puasa. Mereka diminta untuk tetap melakukan
aktivitas fisik seperti biasa. Setelah Ramadhan berakhir, mereka diminta
kembali kepada jadwal semula.
Tujuan
kunjungan ketiga adalah untuk menginformasikan semua efek puasa
terhadap kesehatan mereka dan bagaimana pengendalian diabetes yang lebih
baik pada masa berikutnya.
Penelitian melibatkan 53 pasien DM (31 pria dan 22 wanita) dengan rerata umur 49,24±12,14 (Range 14-67) tahun dan 56 orang kontrol (21 pria dan 35 wanita) dengan rerata umur 29,26±11,16 (range 22- 66) tahun.
Masalah
medis lain yang dijumpai pada pasien DM adalah hipertensi, IHD, dan
hiperkolesterolemia. Satu pasien mempunyai riwayat stroke, dan dua orang
mempunyai riwayat terapi TB paru. Pasien pasien tersebut diminta untuk
melanjutkan pengobatan yang masih mereka jalani, dengan modifikasi waktu
minum obat selama Ramadhan.
Hasil
penelitian menunjukkan penurunan berat badan yang bermakna (P<.001)
pada akhir Ramadhan pada kedua kelompok. Di antara kelompok DM gula
darah puasa berkurang signifikan (P<.001) tetapi pada kelompok
kontrol tidak. Nilai laboratorium lain seperti profil lemak dan fungsi
ginjal tidak menunjukkan perubahan yang bermakna
4. Bagaimana profil penderita DM selama Ramadhan dan bagaimana pengaruh puasa terhadap penderita DM ?
Penelitian
ini bertujuan untuk menilai karakteristik dan perawatan pasien DM di
Negara-negara muslim dan mempelajari gambaran DM selama Ramadhan dan
pengaruh puasa. Penelitian ini berbasis populasi, retrospektif, survey
transversal yang diadakan di 13 negara. Melibatkan sejumlah 12.914
pasien dengan DM yang direkrut secara acak terstratifikasi dan 12.243 di
antaranya dimasukkan dalam analisis. Peneliti melibatkan 1.070 (8,7%)
pasien dengan DM tipe 1 dan 11.173 (91,3%) pasien dengan DM tipe 2 .
Selama
Ramadhan, 42,8% pasien dengan DM tipe 1 dan 78,7% dengan DM tipe 2
berpuasa setidaknya 15 hari. Kurang dari 50% dari keseluruhan populasi
mengubah dosis terapi mereka (kira-kira seperempat pasien diterapi
dengan Antidiabetik oral dan sepertiga dari pasien menggunakan insulin).
Episode hipoglikemi berat terjadi lebih sering selama Ramadhan bila
dibandingkan dengan bulan lain (DM tipe 1, 0,14 vs. 0.03 episode/bulan, P
= 0,0174; DM tipe 2, 0,03 vs. 0,004 episode/bulan, P < 0.0001).
Hipoglikemia berat lebih sering terjadi pada subyek yang mengubah dosis
obat oral atau insulin atau mengubah tingkat aktivitas mereka. Simpulan
peneliti: Proporsi yang besar pada kedua tipe pasien DM yang berpuasa
selama Ramadhan merupakan tantangan bagi dokter. Diperlukan edukasi yang
baik sebelum puasa, diseminasi panduan puasa (guideline), dan
penelitian lebih lanjut tentang dampak puasa terhadap morbiditas dan
mortalitas.
5. Bagaimana pengaruh puasa terhadap pasien dengan hiperlipidemia?
Tujuan
penelitian ini adalah mengevaluasi pengaruh puasa Ramadhan dengan
asupan rendah lemak dan kalori terhadap parameter antropometrik dan
profil lipid plasma pada pria dengan hiperlipidemia selama Ramadhan. Penelitian dilakukan di the Madani Heart Hospital, Tabriz University of Medical Sciences, Tabriz, Iran selama tahun 1997.
Penelitian
melibatkan relawan sebanyak dua puluh delapan pria sehat dengan
hiperlipidemia pada kelompok puasa dan 10 pria sehat dengan kadar lemak
normal tinggi pada kelompok tidak puasa. Subyek
penelitian didukung untuk berdiet rendah kalori dan lemak. Penelitian
dimulai 20 hari sebelum bulan Ramadhan dan berakhir satu bulan setelah
Ramadhan. Pemeriksaan laboratorium meliputi kolesterol plasma total,
LDL, HDL dan trigliserida dilakukan 4 kali; 20 hari sebelum Ramadhan,
hari pertama Ramadhan, akhir Ramadhan dan 30 hari setelah Ramadhan.
Analisis
data pada kelompok puasa menunjukkan penurunan signifikan asupan energi
dan material nutrisi selama bulan Ramadhan (P<0.05) dan kadar
kolesterol plasma total, LDL dan trigliserida levels menurun pada akhir
Ramadhan (P<0.01). Pada kelompok tidak puasa, tidak ada
perubahan bermakna pada parameter tersebut . Simpulan puasa Ramadhan
dengan asupan lemak dan kalori yang rendah menyebabkan penurunan kadar
lemak plasma pada pria dengan hiperlipidemia.
6. Apakah puasa berpengaruh terhadap insidensi stroke ?
Tujuan
penelitian ini adalah menyelidiki apakah puasa Ramadhan berpengaruh
terhadap insidensi stroke. Secara retrospektif ditinjau database stroke
selama periode 13 tahun, khususnya data pasien muslim yang dirawat inap
dengan stroke dari January 1991 sampai December 2003 di the Hamad General Hospital Qatar.
Pasien
dibagi berdasarkan waktu perawatan inapnya dalam hubungannya dengan
bulan Ramadhan, yakni satu bulan sebelum, selama Ramadhan dan satu bulan
setelah Ramadhan. Jumlah perawatan inap untuk stroke pada waktu waktu
yang berbeda dianalisis. Dianalisis juga umur, gender, profil faktor
risiko kardiovaskular (status merokok, hipertensi, hiperkolesterolemia,
DM, dan penyakit kardiovaskular yang telah diderita). Dikaji juga
kecenderungan kematian dalam perawatan, morbiditas, dan
kegawatdaruratan.
Didapatkan
335 Muslim dirawat inap karena stroke. Rerata umur dan simpang bakunya
adalah 56,99 dan 13,9 tahun. Jumlah perawatan inap untuk stroke tidak
berbeda bermakna selama bulan Ramadhan (29 kasus), jika dibandingkan
dengan bulan sebelum Ramadhan (30 kasus) maupun bulan setelah Ramadhan
(29 kasus). Demikian pula perawatan inap pasien dengan penyakit-penyakit
yang merupakan faktor risiko stroke (yaitu hipertensi, diabetes
mellitus, hiperkolesterolemia, infark miokard akut, dan gagal jantung
kongestif) tidak berbeda bermakna selama Ramadhan jika dibandingkan
dengan bulan sebelum dan setelah Ramadhan.
7. Bagaimana pengaruh puasa terhadap pasien dengan penyakit jantung ?
Dilakukan
penelitian juga mengenai pengaruh puasa Ramadhan terhadap pasien dengan
penyakit jantung. Penelitian prospektif dengan subyek 465 pasien rawat
jalan dengan penyakit jantung yang berpuasa selama Ramadhan dari 24
Oktober sampai 24 November 2003. Subyek penelitian berasal dari beberapa
pusat medik di dataran Arab, yakni Qatar, Kuwait, Emirat Arab dan
Bahrain. Dilakukan penilaian klinis satu bulan sebelum Ramadhan, selama
Ramadhan dan satu bulan setelah Ramadhan dan analisis prediktor luaran.
Keseluruhan,
rerata umur adalah 55,9+/-11,3 tahun (kisaran umur 32-72 tahun). Dari
465 pasien yang diobati, 363 (78,1%) adalah pria dan 102 (21,9%) adalah
wanita. Di antara mereka, 119 (25,6%) pasien menderita CHF, 288 (62%)
pasien dengan angina, 22 (4,7%) pasien dengan atrial fibrilasi dan 11
(2,4%) pasien dengan cangkok katup. Tiga ratus tujuh puluh (79%)
mempunyai riwayat infark miokard (MI), 195 (17,2%) mempunyai riwayat
pembedahan bypass arteri koronaria (CABG), dan 177 (38%) mempunyai
riwayat intervensi koronar (PCI). Pada saat follow up didapatkan,bahwa
91,2% dapat berpuasa dan hanya 6,7% mangalami pemburukan ketika berpuasa
Ramadhan. Dari subyek yang diteliti 82,8% pasien taat terhadap
pengobatan dan 68,8% taat dengan instruksi diet. Perawatan inap dijumpai
pada 19 pasien selama Ramadhan untuk alas an kardiak (unstable angina,
pemburukan gagal jantung, infark miokard, hipertensi tak terkendali,
antikoagulasi atau aritmia subterapetik).
Simpulan:
Pengaruh puasa selama Ramadhan pada pasien stabil dengan penyakit
jantung adalah minimal. Kebanyakan pasien dengan penyakit jantung yang
stabil dapat berpuasa.
8. Apakah puasa meningkatkan risiko rawat inap pasien dengan gagal jantung kongestif ?
Puasa selama Ramadhan menyebabkan perubahan radikal gaya hidup selama periode satu bulan sehingga penting untuk melihat respons pasien gagal jantung kongestif terhadap perubahan gaya hidup tersebut. Tujuan penelitian ini adalah menyelidiki apakah puasa Ramadhan mempunyai pengaruh terhadap jumlah perawatan pada pasien CHF pada populasi yang ditentukan. Dilakukan kajian retrospektif data klinis pada semua pasien bangsa Qatar di Qatar selama periode 10 tahun (Januari 1991 sampai dengan December 2001) yang dirawat inap dengan gagal jantung. Pasien dibagi berdasarkan waktu perawatan inap dalam hubungannya dengan bulan Ramadhan, yakni satu bulan sebelum Ramadhan, selama Ramadhan dan satu bulan setelah Ramadhan. Dilakukan analisis terhadap jumlah perawatan inap untuk CHF dalam berbagai waktu tersebut. Dianalisis juga umur, gender, profil factor risiko kardiovaskular (status merokok, hipertensi, hiperkolesterolemia, diabetes, penyakit jantung yang telah diderita).
Didapatkan 20.856 pasien yang diterapi selama peiode 10 tahun, 8.446 di antaranya adalah bangsa Qatar dengan 5.095 pria dan 3.351 wanita. Sejumlah 2.160 pasien Qatar dirawat inap untuk CHF dengan rerata umur dan simpang baku 64,.2 +/- 11,5 tahun, 52,4% dengan hipertensi, 18,5% dengan hiperkolesterolemia, 17,7% perokok dan 56,5% dengan diabetes. Mortalitas 9,7%. Jumlah perawatan inap untuk CHF tidak berbeda bermakna selama Ramadhan (208 kasus) jika dibandingkan dengan satu bulan sebelum Ramadhan (182 kasus) dan satu bulan setelah Ramadhan (198 kasus); p > 0.37). Tidak ada perbedaan bermakna pada data dasar maupun mortalitas (berturut-turut 11,5%, 7,7% dan 9,6%, p > 0.43) pada pasien yang dirawat inap pada bulan yang berbeda.
Simpulan: Penelitian berbasis populasi ini menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna pada jumlah perawatan inap untuk CHF pada bulan Ramadhan jika dibandingkan dengan bulan selain Ramadhan
KHULASHOH
Telah
dipaparkan tinjauan normatif dan beberapa hasil penelitian tentang
puasa Ramadhan dari penelitian dasar hingga klinis. Hasil-hasil
penelitian menunjukkan keamanan puasa jika dilakukan dengan benar, tidak
hanya pada pelakunya yang sehat, bahkan juga dalam keadaan sakit.
Penderita diabetes mellitus tipe 1 (yang tergantung insulin) jika akan
berpuasa harus menjalani konseling sebelum puasa dan selama puasa harus
mendapat pengawasan secara ketat baik dari dirinya sendiri, keluarga
maupun supervisi dokter spesialis mengingat adanya peningkatan risiko
kejadian hipoglikemia berat. Dokter muslim harus meningkatkan pemahaman
hukum-hukum agama yang berkaitan dengan puasa, agar dapat memberika
konseling dengan baik kepada pasien diabetes.
Sumber : http://bambangedi.wordpress.com





0 komentar:
Post a Comment